Kuningan, faktainfokom.com
Pernyataan Komunitas Imam Tajug (Komit) yang menyayangkan tindakan yang disebut sebagai “perusakan” terhadap proyek penataan Tugu Bola Dunia di Jalan Soekarno-Hatta, serta mengajak masyarakat mengedepankan tabayun, mendapat tanggapan kritis dari Abu Firdaus.
Menurut Abu Firdaus, prinsip tabayun seharusnya diterapkan secara menyeluruh, bukan hanya ketika menanggapi persoalan tugu.
“Kalau bicara tabayun, mari kita tabayun semuanya. Jangan hanya mengajak masyarakat tabayun soal tugu, sementara persoalan internal sendiri tidak pernah dibuka dan dievaluasi. Benahi internal Komit dulu, adakan tabayun secara menyeluruh, termasuk menjelaskan dugaan persoalan pemotongan dana hibah untuk Imam Tajug beberapa tahun lalu, kalau memang isu itu ada. Jangan hanya sibuk menilai persoalan di luar,” ujar Abu Firdaus.
Ia menegaskan, penyebutan dugaan tersebut bukan berarti menyimpulkan telah terjadi pemotongan dana. Menurutnya, justru hal itu perlu diklarifikasi secara terbuka agar tidak menjadi isu yang terus berkembang tanpa kepastian.
“Kalau memang tidak benar, jelaskan dan buktikan bahwa tidak pernah terjadi. Kalau ada administrasinya, buka dokumennya. Kalau ada pihak yang merasa dirugikan, berikan ruang untuk klarifikasi. Itulah tabayun yang sebenarnya,” katanya.
Abu Firdaus juga meminta Komit tidak terburu-buru memframing persoalan Tugu Bola Dunia sebagai tindakan “perusakan”.
“Fahami dulu persoalannya secara menyeluruh. Apakah pembangunan atau penataan tugu sudah sesuai RAB? Nomenklaturnya apa? RAB-nya seperti apa? Bagaimana pengesahan anggarannya? Apakah pelaksanaannya sesuai dengan dokumen perencanaan dan kontrak? Apakah ada perubahan pekerjaan? Apakah kewenangannya sudah tepat?” ujarnya.
Menurutnya, apabila seluruh proses tersebut telah sesuai ketentuan, pemerintah tentu dapat menjelaskannya kepada masyarakat secara terbuka.
“Jangan langsung membangun opini seolah-olah persoalannya hanya ada pihak yang merusak fasilitas umum. Persoalannya harus dilihat dari awal sampai akhir. Publik berhak mengetahui dasar kebijakan dan penggunaan anggaran publik,” tegas Abu Firdaus.
Ia menilai, ajakan tabayun justru harus dimulai dari pemeriksaan fakta dan dokumen.
“Tabayun bukan sekadar meminta orang lain menahan diri. Tabayun berarti berani memeriksa semua fakta, termasuk fakta yang mungkin tidak nyaman bagi kelompok sendiri,” katanya.
Abu Firdaus pun mengingatkan Komit agar lebih proporsional dalam menjalankan perannya.
“Imam Tajug silakan mengurus tajug dan persoalan keumatan. Tetapi ketika masuk ke ranah kebijakan publik, anggaran dan proyek pemerintah, jangan hanya melihat satu potongan kejadian. Pahami dulu seluruh persoalannya sebelum memberikan penilaian kepada publik,” ujarnya.
Menurut Abu Firdaus, masyarakat saat ini membutuhkan kejelasan, bukan sekadar narasi yang saling berhadapan.
“Kalau mau tabayun, ayo kita buka semuanya. Soal tugu buka RAB dan nomenklaturnya. Soal anggaran buka prosesnya. Soal pelaksanaan periksa kesesuaiannya. Dan soal internal Komit, kalau ada dugaan pemotongan dana hibah beberapa tahun lalu, lakukan juga tabayun dan klarifikasi. Jangan menggunakan standar yang berbeda,” katanya.
Ia menambahkan, kritik tersebut tidak ditujukan untuk menyerang institusi keagamaan, melainkan sebagai pengingat agar semua pihak yang berbicara di ruang publik bersedia menerapkan standar yang sama terhadap dirinya sendiri.
“Sebelum meminta orang lain tabayun, lakukan tabayun terhadap diri sendiri. Sebelum meminta pemerintah transparan, pastikan internal sendiri juga siap transparan. Itu baru adil,” Ingat beberapa tahun lalu sempat ada isu pemotongan dana hibah Imam Tajug, evaluasi diri aja dulu pungkas Abu Firdaus.
Red







