Kuningan, faktainfokom.com
Ketua Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI), Manap Suharnap, mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan fokus terhadap rencana pengembangan proyek geothermal di kawasan Gunung Ciremai. Menurutnya, isu lain yang berkembang jangan sampai menggeser perhatian publik dari persoalan lingkungan dan keselamatan ruang hidup masyarakat.
Manap menegaskan, geothermal bukan sekadar persoalan investasi energi, melainkan menyangkut keberlanjutan ekosistem, ketersediaan sumber air, kondisi geologi, serta masa depan masyarakat di sekitar Gunung Ciremai.
“Jangan sampai isu apa pun menggeser perhatian kita. Sebelum kajian ilmiah yang independen, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan dibuka kepada publik, jangan berharap masyarakat menerima begitu saja rencana geothermal,” tegasnya.
Ia mempertanyakan keterbukaan pemerintah terkait jumlah titik pengeboran, kedalaman yang direncanakan mencapai sekitar 3.000 meter, kebutuhan air, sumber air yang digunakan, serta potensi dampaknya terhadap mata air dan kawasan konservasi.
Menurut Manap, kajian dampak juga harus memperhatikan kondisi geologi dan hidrologi secara lintas wilayah, bukan hanya berdasarkan batas administratif Kabupaten Kuningan. Karena itu, FORMASI berencana memperluas konsolidasi hingga berbagai elemen masyarakat di Jawa Barat.
Manap juga menilai Pemkab Kuningan masih berupaya mendorong rencana geothermal meskipun penolakan masyarakat telah disampaikan. Ia meminta Bupati dan Sekretaris Daerah membuka seluruh dokumen kajian serta memberikan ruang partisipasi yang setara bagi masyarakat yang menolak maupun mendukung investasi.
“Jangan sampai pemerintah lebih sibuk mencari jalan agar proyek tetap berjalan daripada menjawab kekhawatiran masyarakat. Kami menuntut keterbukaan informasi, perlindungan lingkungan, dan penghormatan terhadap aspirasi publik,” ujarnya.
FORMASI SIAP AKSI BERJILID-JILID
Sebagai bentuk keseriusan, Manap menyatakan FORMASI siap menggelar aksi penolakan secara berjilid-jilid di Pendopo Kabupaten Kuningan dan Gedung DPRD Kuningan apabila rencana geothermal terus didorong tanpa keterbukaan kajian ilmiah independen.
Aksi tersebut direncanakan melibatkan organisasi masyarakat sipil, kelompok lingkungan, komunitas masyarakat, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen dari sejumlah daerah di Jawa Barat.
“Kami akan mendatangi Pendopo dan DPRD. Bupati dan Sekda harus mendengar aspirasi masyarakat, sementara DPRD harus menjalankan fungsi pengawasan. Jika tetap dipaksakan tanpa keterbukaan, kami siap menggalang kekuatan masyarakat se-Jawa Barat,” tegasnya.
FORMASI juga berencana meminta pandangan dan fatwa keagamaan Habib Rizieq Shihab terkait tanggung jawab umat dalam menjaga kelestarian alam. Manap berharap organisasi kemasyarakatan Islam dan para tokoh agama turut memberikan dukungan moral terhadap perjuangan menjaga Gunung Ciremai.
MARA STANZA: CIREMAI TANGGUNG JAWAB BERSAMA
Senada dengan FORMASI, Ketua DPD Sundawani Wirabuana, Mara Stanza, menyatakan bahwa kelestarian Gunung Ciremai merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, setiap rencana kegiatan yang berpotensi memengaruhi kawasan Ciremai harus didahului keterbukaan informasi, kajian ilmiah independen, serta pelibatan masyarakat.
Ia menilai Gunung Ciremai bukan semata objek investasi, tetapi memiliki nilai ekologis, historis, dan kultural yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
INVESTASI HARUS TUNDUK PADA PERLINDUNGAN LINGKUNGAN
Manap menegaskan, FORMASI tidak menolak pembangunan secara keseluruhan. Namun, investasi energi harus mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepastian hukum, transparansi, dan perlindungan lingkungan hidup.
“Jangan hanya menjanjikan manfaat ekonomi dan energi, sementara kebutuhan air, risiko pengeboran, dampak terhadap mata air, dan konsekuensi jangka panjangnya belum dijelaskan secara terbuka. Kajian harus dibuka sebelum keputusan diambil,” tandasnya.
FORMASI memastikan akan terus melakukan konsolidasi, advokasi publik, dan aksi damai melalui mekanisme konstitusional.
“Gunung Ciremai adalah sumber kehidupan dan warisan ekologis. Jangan sampai kepentingan investasi hari ini justru menjadi beban kerusakan lingkungan bagi generasi mendatang,” pungkas Manap Suharnap.
Red







