Jakarta, faktainfokom.com
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membuka kemungkinan penggunaan kekuatan untuk menguasai Greenland dinilai berpotensi mengguncang tatanan geopolitik global serta merusak kepercayaan antarnegara sekutu. Sikap tersebut memicu kekhawatiran luas, terutama di kawasan Eropa dan negara-negara anggota NATO.
Analis Geopolitik dan Transportasi Tatanan Dunia Baru, George Moris, menilai wacana penguasaan Greenland bukan sekadar isu regional, melainkan sinyal perubahan serius dalam cara Amerika Serikat memandang hubungan internasional.
“Greenland bukan wilayah konflik biasa. Ini adalah bagian dari negara sekutu NATO. Ketika isu keamanan nasional dijadikan alasan untuk menekan wilayah sekutu, maka fondasi aliansi global ikut dipertaruhkan,” ujar George Moris kepada wartawan, Rabu (7/1/2026 ).
Menurut George, Greenland memiliki posisi strategis dalam jalur transportasi global masa depan, khususnya di kawasan Arktik yang semakin terbuka akibat perubahan iklim. Wilayah tersebut juga berperan penting dalam pengawasan keamanan dan distribusi logistik lintas Atlantik Utara.
“Dari perspektif geopolitik dan transportasi global, Greenland adalah simpul strategis. Namun pendekatan berbasis ancaman justru menimbulkan ketidakpastian dan ketegangan baru,” katanya.
Ia menegaskan, tekanan terhadap Denmark berpotensi menempatkan NATO pada dilema serius. Pasal 5 NATO, yang menjamin pembelaan kolektif, dinilai menghadapi ujian terberatnya.
“Jika Amerika sebagai anggota utama NATO justru menjadi sumber tekanan, maka kredibilitas aliansi itu sendiri dipertanyakan. Ini bukan sekadar masalah politik, tetapi krisis kepercayaan,” jelasnya.
George Moris juga menilai situasi tersebut memberi ruang bagi Rusia dan China untuk membaca lemahnya solidaritas Barat, khususnya di kawasan Arktik yang semakin strategis.
“Ketika Barat terpecah, kawasan Arktik berpotensi berubah dari jalur transportasi damai menjadi wilayah kompetisi dan konflik terbuka,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika pendekatan kekuatan sepihak terus berlanjut, dunia akan bergerak menjauh dari tatanan internasional berbasis aturan menuju sistem yang lebih rapuh dan tidak stabil.
“Dunia tidak takut pada kekuatan, tetapi pada hilangnya komitmen terhadap aturan dan aliansi. Jika negara kuat merasa bebas bertindak, maka negara kecil akan selalu berada dalam posisi rentan,” pungkas George Moris.
Oleh: George Moris
Analis Geopolitik dan Transportmasi Tatanan Dunia Baru.







