JAKARTA, faktainfokom.com
Rabu 2 September 2026 Pemerintah kembali memasang target besar di sektor pertanian. Kementerian Pertanian menyiapkan anggaran Rp28,02 triliun pada 2027 untuk mempertahankan capaian swasembada sekaligus mengejar sejumlah komoditas yang hingga kini masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Dari total pagu tersebut, sekitar Rp16,6 triliun dirancang untuk memperkuat sejumlah sektor strategis, mulai dari padi, komoditas larangan dan pembatasan (lartas), hortikultura, hingga hilirisasi perkebunan dan peternakan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan anggaran tidak akan dibagi rata ke seluruh sektor. Pemerintah memilih pendekatan bertahap dengan memusatkan sumber daya pada komoditas yang dinilai paling strategis.
Prinsipnya sederhana: anggaran harus menghasilkan target yang jelas.
Amran menyebut sejumlah komoditas telah mencapai swasembada, antara lain beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar dan cabai rawit.
Namun pekerjaan belum selesai.
Setelah sejumlah komoditas tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan nasional, pemerintah mulai mengarahkan bidikan kepada komoditas yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor.
Bawang putih menjadi salah satu target berikutnya.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri selama bertahun-tahun membuat komoditas ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah. Karena itu, penguatan produksi dalam negeri diarahkan sebagai bagian dari agenda substitusi impor.
Amran mengatakan pemerintah tidak ingin seluruh komoditas dikejar secara bersamaan.
«“Ini tidak bisa sekaligus. Jadi kita selesaikan satu-satu. Kalau anggaran ini dibagi rata, biasanya tidak ada yang jadi.”»
Selain produksi pangan, pemerintah juga menempatkan hilirisasi sebagai bagian penting dari strategi pertanian 2027. Hilirisasi perkebunan mendapat perhatian agar hasil produksi tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani dan perekonomian nasional.
Sektor peternakan pun mendapat porsi anggaran untuk memperkuat produksi daging, susu dan telur.
Di sisi lain, penyuluhan dan pendidikan pertanian tetap menjadi bagian dari agenda pemerintah. Penguatan sumber daya manusia dianggap penting agar peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada tambahan anggaran, tetapi juga pada kemampuan petani mengadopsi teknologi dan meningkatkan produktivitas.
Bukan Sekadar Besar di Anggaran
Besarnya anggaran tentu bukan ukuran tunggal keberhasilan.
Yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah uang negara dibelanjakan.
Jika Rp28,02 triliun hanya menghasilkan program, rapat, perjalanan dinas, dan laporan administrasi, maka target swasembada akan berhenti sebagai jargon.
Sebaliknya, apabila anggaran benar-benar mampu meningkatkan produksi, menekan impor, memperkuat posisi petani dan menciptakan industri pengolahan di dalam negeri, maka investasi negara tersebut memiliki makna strategis.
Tantangan pemerintah pada 2027 karena itu bukan sekadar menghabiskan anggaran, melainkan memastikan setiap rupiah memiliki dampak yang dapat diukur.
Bawang putih menjadi salah satu ujian berikutnya.
Jika komoditas ini berhasil dituntaskan ketergantungannya terhadap impor, pemerintah memiliki satu bukti tambahan bahwa agenda swasembada bukan sekadar slogan politik, melainkan kebijakan yang benar-benar bekerja di lapangan.
Red







