Bandung, faktainfokom.com
Terkait konfirmasi yang dilayangkan oleh media faktainfokom.com ke Dinas Pendidikan kota Bandung tentang pengadaan koneksi internet SD Negeri sebesar Rp. 4.450.545.000 dan pengadaan internet untuk SMP Negeri sebesar Rp. 1.236.262.500, candra mengatakan, “bahwa pihak Disdik menyiapkan internet untuk semua sekolah (SDN dan SMPN) dikota Bandung sebanyak 200 mbps persekolah dengan sistem broadband, candra menambahkan broadbandnya itu antara 1:4 atau 1:8 saya kurang tahu jelasnya, yang pasti kebutuhan itu dibayar perbulannya Rp. 1.300.000 persekolah, kontrak selama 11 bulan terhitung bulan februari 2026 yang dibayarkan dibulan maret 2026.
Ketika kami menanyakan dengan sejumlah Rp. 1.300.000 perbulannya, berapa mbps yang sekolah dapat..? dan dijawab oleh candra, bahwa harga broadband segitu, sekolah dapat 200 mbps dengan perbandingan 1:4, jadi setiap sekolah mendapat 50 mbps, kalau kurang dari 50 mbps, atau kondisi internetnya mati atau tidak menyala maka kami tidak akan membayarnya, dan sekolah bisa mendapat lebih dari 50 mbps seandainya sekolah lain sedang tidak menggunakan internet/ wiffi tersebut.
Menurut candra harga perbulan Rp. 1.300.000 per 200 mbps untuk satu sekolah sudah paling murah, jadi kalau dihitung dengan sejumlah sekolah SDN dan SMPN sekota Bandung sejumlah 269 (SDN)+ 75(SMPN) x 11bulan x Rp 1.300.000 = Rp 4.919.200.000, sementara di DPA anggaran pengadaan internet untuk SDN Rp. 4.450.545.000 dan untuk SMPN Rp. 1.236.262.500.
Sementara kondisi beberapa sekolah yang kami singgahi banyak mengeluhkan dengan keadaan internet yang telah disediakan oleh Disdik kota Bandung, rata-rata mereka mengatakan bahwa internet yang diadakan oleh Disdik kota Bandung kurang mencukupi jika digunakan disekolah, jadi kami bingung, kalau mau masang diluar internet yang sudah disediakan oleh Disdik kami tidak dibolehkan, sementara sekolah sangat membutuhkan dengan koneksi internet yang supercepat tidak lambat seperti sekarang.
Namun lain halnya dengan tanggapan candra, menurut candra internet yang kami sediakan sudah mencukupi, kecuali mungkin kalau disekolahnya digunakan untuk nonton youtube, netflix atau diluar kebutuhan sekolah.
Candra menambahkan, kami melarang sekolah memasang sendiri, karena kami pernah menemukan beberapa kasus seperti di dua sekolah yang berbeda, memasang internet dengan jumlah mbps yang sama, namun pembayaran perbulannya berbeda, ucap candra.
(Kamal/Muchril)







