Gerindra Kuningan dan Pertarungan Kursi Ketua: Ketika Modal Belum Tentu Menjadi Tiket Kekuasaan

Kuningan, faktainfokom.com

Jum’at 4 September 2026 Perebutan kursi Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Kuningan mulai memasuki wilayah politik yang lebih serius. Di balik bursa nama yang beredar, ada pertarungan kepentingan untuk menentukan siapa yang akan memegang kendali organisasi, mengonsolidasikan kader, sekaligus menyiapkan mesin politik Gerindra menghadapi kontestasi politik berikutnya.

Karena itu, kursi Ketua DPC bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah simpul kekuasaan partai di tingkat kabupaten. Siapa yang duduk di kursi tersebut akan memiliki pengaruh besar terhadap arah konsolidasi kader, komunikasi politik, strategi elektoral dan hubungan partai dengan masyarakat.

Dalam konteks itu, nama Rohmat Ardiyan sebelumnya mencuat sebagai salah satu kandidat kuat. Namun belakangan, posisi tersebut mulai dipertanyakan. Seorang pengamat politik warung kopi bahkan menyebut nama Rohmat Ardiyan berpotensi “hilang dari radar” kandidat terkuat.

Menurut pengamat tersebut, persoalannya bukan semata-mata kemampuan finansial. Justru di situlah pertanyaan politiknya muncul: apakah kekuatan finansial dan popularitas digital cukup untuk menaklukkan struktur partai?

“Kalau hanya mengandalkan finansial dan pencitraan media sosial, belum tentu cukup. Ketua DPC harus punya akar di partai, memiliki loyalitas kader dan mampu mengonsolidasikan struktur,” ujar pengamat yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Ia bahkan menyebut Rohmat Ardiyan sebagai “kader karbitan”, sebuah penilaian subjektif yang menggambarkan anggapan bahwa perjalanan politiknya di Gerindra belum sepanjang kader-kader yang lebih dahulu membangun struktur dan jaringan partai.

Namun, politik tidak berhenti pada label. Jika Rohmat Ardiyan memang memiliki dukungan politik yang kuat, pertanyaan berikutnya adalah dari mana kekuatan tersebut berasal: dari struktur partai, jaringan kader, popularitas masyarakat atau kekuatan finansial?

Di sinilah pertarungan Ketua DPC menjadi menarik.

Sebab partai politik bukan perusahaan. Struktur partai tidak semata-mata bergerak berdasarkan siapa yang memiliki sumber daya paling besar. Ada loyalitas, sejarah perjuangan, jaringan kader, kemampuan komunikasi dan tentu saja tingkat kepercayaan dari struktur di atasnya.

Persoalan lain yang berpotensi menjadi beban persepsi adalah isu lingkungan yang dikaitkan dengan aktivitas perusahaan keluarganya. Di Kuningan, isu tersebut memiliki sensitivitas politik tersendiri karena daerah ini memiliki Gunung Ciremai sebagai kawasan ekologis strategis.

Sorotan itu semakin mungkin berkembang setelah Rohmat Ardiyan disebut akan mendukung program nuklir. Pernyataan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi publik untuk mempertanyakan lebih jauh bagaimana sikap politiknya terhadap masa depan energi, termasuk geothermal dan perlindungan kawasan Gunung Ciremai.

Sebagian pihak bahkan dapat menarik tafsir lebih jauh mengenai kemungkinan eksplorasi mineral strategis, termasuk uranium yang selama ini disebut-sebut dalam berbagai perbincangan publik tentang kawasan Ciremai.

Namun, tafsir politik tidak boleh disamakan dengan fakta. Dukungan terhadap program nuklir tidak otomatis berarti dukungan terhadap pengeboran geothermal di Ciremai. Begitu pula isu keberadaan uranium di perut Ciremai harus dibuktikan melalui kajian geologi dan data resmi, bukan sekadar rumor.

Justru karena itu, Rohmat Ardiyan memiliki kesempatan untuk menjawab secara terbuka.

Apa sebenarnya posisi politiknya terhadap program nuklir? Bagaimana sikapnya terhadap geothermal? Bagaimana komitmennya terhadap perlindungan Gunung Ciremai? Dan bagaimana ia memandang isu eksplorasi sumber daya mineral strategis?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi penting karena kursi Ketua DPC bukan hanya soal siapa yang paling siap secara finansial, tetapi siapa yang paling siap mempertanggungjawabkan keputusan politiknya di hadapan kader dan masyarakat.

Maka, bursa Ketua DPC Gerindra Kuningan sesungguhnya sedang menguji satu hal yang lebih besar: apakah partai akan memilih figur berdasarkan kekuatan modal dan popularitas, atau berdasarkan akar kaderisasi, loyalitas organisasi dan kapasitas kepemimpinan?

Jawabannya akan menentukan bukan hanya siapa yang duduk di kursi Ketua DPC, tetapi juga ke mana arah politik Gerindra Kuningan setelah ini.

Dan di tengah pertarungan tersebut, nama Rohmat Ardiyan kini menghadapi satu pertanyaan yang tak bisa dijawab hanya dengan pencitraan:

Seberapa kuat sebenarnya akar politiknya di dalam Gerindra Kuningan?

RED

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *