Penumpang Gelap dalam Perbaikan Kolam Cigugur, Iwa Gunawan Soroti Dugaan Pengrusakan dan Hilangnya Batu Alami

Kuningan, faktainfokom.com

Proyek perbaikan Kolam Ikan Dewa Cigugur menuai sorotan tajam dari masyarakat. Alih-alih melakukan normalisasi sesuai konsep awal, pekerjaan di lokasi justru diduga keluar dari rencana dengan adanya pengerukan dasar kolam serta pengangkatan batu-batu alami yang selama puluhan tahun menjadi struktur utama kolam.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai proses perbaikan tersebut menyimpan sejumlah kejanggalan yang berpotensi merusak ekosistem dan nilai historis kolam.

Menurut Iwa, prioritas awal perbaikan seharusnya hanya mengembalikan fungsi kolam ke kondisi aslinya melalui normalisasi, bukan mengubah struktur dasar yang telah terbentuk secara alami.

“Konsep awalnya adalah normalisasi kolam, bukan membangun ulang atau mengubah bentuk dasar kolam. Namun fakta di lapangan justru terjadi pengerukan yang keluar dari konsep awal,” ujar Iwa Gunawan kepada wartawan, Selasa (3/3/2026).

Batu Dasar Kolam Diduga Diangkat dan Dibawa Keluar

Ia mengungkapkan, batu-batu bulat alami serta batu penyangga besar yang selama ini menjadi fondasi dasar kolam diduga diangkat menggunakan alat berat dengan dalih pembersihan.

Padahal, kata dia, batu-batu tersebut memiliki fungsi ekologis sekaligus struktural dalam menjaga kestabilan dasar kolam.
Iwa mengaku sempat menyaksikan langsung aktivitas pengerjaan pada Kamis (26/2/2026) dan telah mengingatkan agar operator alat berat tidak mengeluarkan batu dasar kolam.

Namun sehari kemudian, tepatnya Jumat (27/2/2026), pengerukan tetap berlangsung.
“Sudah ada truk dari dinas PU dan material hasil pengerukan diangkut keluar. Batu dasar kolam yang sejak lama terpendam justru dibawa pergi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Ia menduga material alami tersebut bahkan diperjualbelikan, meski hingga kini belum ada kejelasan terkait pengelolaan hasil pengerukan maupun aliran dananya.

Dasar Kolam Berubah, Air Menguning

Akibat pengerukan tersebut, kondisi kolam disebut mengalami perubahan signifikan. Dasar kolam yang sebelumnya tersusun batu koral alami kini berubah menjadi lumpur dan tanah, sehingga warna air mengalir ke hilir menjadi kecokelatan.

Selain merusak estetika, pekerjaan juga disebut mengalami keterlambatan karena adanya aktivitas tambahan yang tidak masuk agenda awal pengurasan kolam.

“Ini yang saya sebut penumpang gelap dalam proyek perbaikan. Ada pekerjaan pendalaman dasar kolam yang tidak pernah menjadi rencana awal,” tegasnya.

Sumur Alami Diduga Dirusak

Lebih jauh, Iwa menyoroti perubahan pada sumur alami di dasar kolam yang sebelumnya hanya direncanakan untuk dibersihkan.
Menurutnya, batu-batu besar di sekitar lingkar sumur justru diangkat sehingga membentuk cekungan menyerupai cawan dengan kedalaman mencapai sekitar sembilan meter.

Kondisi itu dinilai berbahaya karena dapat mengancam stabilitas dinding kolam, khususnya di sisi timur dan selatan, serta berisiko bagi pengunjung yang berenang.

“Sumur alami yang seharusnya dijaga malah berubah bentuk. Ini bukan lagi normalisasi, tapi sudah mengarah pada pengrusakan struktur alami kolam,” ujarnya.

Minta Pertanggungjawaban Dinas dan Pelaksana

Atas kondisi tersebut, Iwa Gunawan meminta pihak dinas terkait maupun pelaksana proyek memberikan penjelasan terbuka kepada publik.
Ia menegaskan, tanggung jawab tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga moral dan hukum apabila terbukti terjadi penyimpangan pekerjaan.

“Pihak dinas maupun pemborong wajib bertanggung jawab secara moral dan hukum. Kolam Cigugur ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari warisan lingkungan dan budaya masyarakat,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak dinas terkait belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pengangkatan material alami dan perubahan struktur dasar kolam tersebut.

| red/anhad

Pos terkait