Fauzan Jibar Soroti Risiko Geothermal Ciremai: Jangan Sampai Menjadi Pintu Masuk Eksploitasi Mineral Strategis

KUNINGAN, faktainfokom.com

Rencana pengembangan proyek geothermal di kawasan Gunung Ciremai tidak hanya dipandang dari aspek energi terbarukan. Ketua Komunitas Sastra Belantara, Fauzan Jibar, menyoroti aspek yang menurutnya jauh lebih strategis, yakni potensi keterkaitan kegiatan eksplorasi panas bumi dengan kemungkinan ditemukannya sumber daya mineral lain di bawah permukaan.

Fauzan menyatakan, perbedaan pendapat mengenai geothermal seharusnya tidak menghilangkan kebutuhan untuk menguji seluruh kemungkinan secara terbuka, termasuk menyangkut potensi mineral strategis dan kepentingan kedaulatan negara.

“Kajian dan analisa kami, terlepas dari apa pun perbedaan pendapat dari banyak elemen, yang terpenting jangan sampai geothermal hanya menjadi pintu masuk penguasaan untuk mengeksploitasi kemungkinan adanya mineral lain,” ujar Fauzan Jibar.

Menurutnya, isu tersebut harus ditempatkan sebagai pertanyaan strategis yang wajib diverifikasi secara ilmiah, bukan langsung diperlakukan sebagai fakta yang sudah terbukti.

Fauzan juga menyinggung adanya dugaan kandungan uranium. Namun, ia menekankan bahwa dugaan tersebut harus dibuktikan melalui data geologi, penelitian laboratorium, serta kajian dari lembaga yang memiliki kewenangan dan kompetensi.

“Termasuk dugaan adanya kandungan uranium yang berpotensi mengganggu kedaulatan jika betul dalam penguasaan asing,” katanya.

Bukan Sekadar Soal Listrik

Fauzan berpandangan bahwa pembahasan geothermal tidak cukup berhenti pada pertanyaan mengenai berapa besar listrik yang dapat dihasilkan.

Menurut dia, sebelum proyek dikembangkan, publik perlu memperoleh penjelasan mengenai karakteristik geologi kawasan, potensi sumber daya bawah permukaan, status penguasaan sumber daya, struktur kepemilikan atau investasi, serta batas-batas kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.

Dengan demikian, kata dia, masyarakat dapat membedakan secara jelas antara kegiatan pemanfaatan energi panas bumi dengan kemungkinan kegiatan eksplorasi sumber daya lainnya.

“Jangan sampai kita hanya melihat permukaannya sebagai proyek energi, tetapi tidak mengetahui secara transparan apa saja yang menjadi objek eksplorasi di bawah permukaan,” ujarnya.

Dugaan Harus Dibuktikan, Bukan Dipercaya Begitu Saja

Pernyataan Fauzan sekaligus membuka ruang bagi verifikasi yang lebih serius. Sebab, dugaan mengenai keberadaan uranium atau mineral strategis tidak dapat dijadikan dasar kesimpulan tanpa data yang dapat diuji.

Karena itu, menurut perspektif tersebut, pemerintah perlu membuka informasi teknis yang relevan kepada publik apabila memang tersedia, termasuk hasil survei geologi, data eksplorasi, batas wilayah kerja, serta pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pengembangan.

Persoalannya bukan semata-mata menerima atau menolak geothermal, melainkan memastikan bahwa setiap kegiatan eksplorasi sumber daya alam berlangsung dengan transparansi, pengawasan negara, kepastian hukum, dan perlindungan terhadap kepentingan strategis nasional.

Dalam konteks itu, Fauzan meminta agar polemik geothermal Ciremai tidak disederhanakan menjadi pertentangan antara kelompok yang pro dan kontra.

Menurutnya, justru perbedaan pandangan tersebut harus menjadi momentum untuk membuka seluruh data dan menjawab pertanyaan publik secara terukur.

“Kalau memang tidak ada mineral lain yang menjadi objek eksplorasi, tentu harus bisa dijelaskan secara terbuka. Kalau ada dugaan, buktikan secara ilmiah. Yang tidak boleh adalah masyarakat diminta percaya tanpa memperoleh informasi yang memadai,” pungkasnya.

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *